Penyakit Akibat Banjir
Assalamualaikum wr wb

Dr Zubairi Yth,
Sejak banjir melanda ibu kota beberapa waktu lalu, sejumlah tetangga saya gay mobile porn
mengalami muntaber, bahkan ada yang sampai dirawat di rumah sakit. Apakah ada hubungan antara banjir dan muntaber?
Bagaimana mencegahnya?
Selain demam berdarah dengue dan leptospirosis, masih adakah penyakit lain yang berpotensi muncul pascabanjir? Bukankah masalah banjir sudah sering terjadi di Indonesia dan banyak negara lain? Apakah kita bisa belajar dari mereka?

Anna, Jakarta Utara


Waalaikumussalam wr wb
Mbak Anna yang baik,
Memang banjir dapat menyebabkan timbulnya berbagai wabah penyakit, mulai dari demam berdarah, leptospirosis, demam tifoid sampai muntaber. Untuk mengantisipasi masalah kesehatan yang muncul dan merancang tata laksananya, benar sekali kata Mbak Anna, sebetulnya kita bisa belajar dari pengalaman yang lalu, baik di Indonesia maupun di luar negeri.

Maharastra, daerah bagian barat India, melaporkan 19 kasus baru kolera setelah banjir reda. Selain kolera, juga dilaporkan 352 kasus hepatitis, 30 leptospirosis, dan 10 demam berdarah dengue. Sedangkan pasien diare (sebagian besar bukan karena kolera), meningkat tajam, mencapai angka 11.684 orang. Seperti kita ketahui, di daerah yang kebanjiran sulit sekali mendapat air bersih, apalagi aliran listrik dimatikan dan banyak kompor yang hanyut, sehingga pompa air tidak jalan dan sulit mendapatkan air minum yang dimasak, padahal air yang ada terpolusi oleh sampah dan kotoran. Banyak pasien yang terinfeksi kolera dan kuman penyakit lain, yang menyebabkan gejala diare. Lebih dari 80 orang meninggal di Mumbai akibat muntaber.

Contoh lain, sewaktu terjadi banjir di Iowa, Amerika Serikat (AS) pada tahun 1993, Pusat Pengendalian Penyakit AS bersama-sama dengan Departemen Kesehatan Masyarakat AS memantau secara ketat timbulnya masalah kesehatan akibat banjir, seminggu sekali.

Mereka melakukan wawancara terhadap pegawai dinas kesehatan dari 99 kecamatan, hasilnya sebagai berikut: ketersediaan layanan kesehatan dan obat-obatan masih cukup baik, terjadi kehilangan sistem air bersih untuk 250 ribu penduduk, sistem pembuangan sampah terganggu untuk 15 persen penduduk, dan lebih dari 50 persen penduduk melaporkan peningkatan masalah vektor penyakit (nyamuk, tikus, lalat, dan sebagainya). Ada beberapa masalah kesehatan lain yang diidentifikasi di Iowa selama banjir, antara lain keracunan karbonmonoksida karena pemakaian generator di dalam rumah.

Di Indonesia, kita harus hati-hati memanfaatkan generator, karena banyak sekali orang yang membeli generator akhir-akhir ini lantaran listrik di daerah banjir harus dimatikan. Dalam hal ini, jangan menempatkan generator di kamar tertutup untuk mencegah keracunan karbonmonoksida. Ventilasi, aliran udara harus baik.

Masalah lain adalah tersengat aliran listrik (kesetrum), dan hipotermia yaitu kedinginan akibat badan terendam air, atau memakai baju basah terlalu lama, atau terisolir di dalam rumah. Ada pula pasien penyakit menahun yang kambuh dan masalah luka yang terinfeksi karena terendam air lumpur, hal ini cukup sering terjadi ketika banjir mulai surut dan anggota keluarga mulai membersihkan rumah. Ada pula daerah di Iowa yang melaporkan peningkatan jumlah pasien pengguna narkotika yang harus dirawat inap dan juga peningkatan jumlah pasien di rumah sakit jiwa.

Masalah kesehatan masyarakat akibat banjir juga mencakup kehilangan tempat tinggal atau terpaksa mengungsi, yang dapat menyebabkan penyebaran penyakit meningkat karena lingkungan pengungsi yang amat padat dan hygiene yang tidak terjaga, termasuk kebiasaan cuci tangan sebelum makan.

Memang hampir semua masalah kesehatan tersebut juga ditemukan di daerah banjir di Jakarta. Namun, yang paling banyak ditemui muntaber. Beberapa masalah kesehatan kelihatannya belum muncul (semoga tidak), yaitu hepatitis A dan keracunan karbonmonoksida akibat pemakaian generator di dalam rumah.

Adakah upaya yang perlu dilakukan untuk mencegah kita tertular penyakit? Sewaktu dan sesudah banjir, penting sekali kita menjaga kesehatan dengan:
* Hanya minum air matang, yang direbus sampai mendidih.
* Purifikasi air minum dan air untuk memasak.
* Hati-hati menjaga agar makanan tidak terkontaminasi air banjir yang banyak mengandung kuman.
* Hati-hati dengan makanan yang menjadi basi akibat disimpan di lemari es yang listriknya terputus.
* Segera desinfeksi sumur setelah banjir surut.
* Menjaga sanitasi dan hygiene personal.
* Menjaga jangan sampai kita luka sewaktu membersihkan rumah setelah air surut.
* Mengontrol nyamuk, termasuk membersihkan jentik-jentik.